Senin, 09 Maret 2015
Selasa, 23 September 2014
Latar Belakang Berdirinya Posko Kekeringan dilereng merapi Oleh Rescue Turahan Awu Dan Radio Komunitas Rasta FM
Tahun 2014 ini
mengalami musim kering yang cukup signifikan dimana air hujan yang ditampung
masyarakat sudah sejak lama habis ditambah lagi sebagian masyarakat yang semula
menggunakan air yang bersumber dari mata air Bebeng kini sudah tidak mengalir karena
adanya kerusakan di bebeng, sehingga masyarakat harus membeli air untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. namun ironisnya ketika sekali dua kali mereka
beli air tidak menjadi masalah akan tetapi karena hujan tak kunjung datang
sehingga masyarakat menjadi sangat terpaksa untuk membeli air karena tidak ada
jalan lain untuk hidup dan harus
mengalahkan kebutuhan pokok lainya demi mendapatkan air. disisi lain masyarakat
yang tidak mampu membeli air ketika tidak ada bantuan air bersih mereka harus
meminta ke tetangganya yang sebenarnya juga sama-sama berhemat dalam
menggunakan air
Kemudian disisi yang lain masyarakat yang sebenarnya mampu
untuk membeli air juga belum tentu mendapat air ketika kehabisan air karena
antrian langganan yang cukup panjang kadang sampai berhari-hari baru mendapat
giliran suplai dari air yang sebenarnya mereka bayar.
hal ini ketika disesuaikan dengan sudahkan hidup bersih
dilakukan oleh masyarakat lereng merapi? ahirnya menjadi pertanyaan besar,
karena untuk minum saja sulit jangan kan untuk mandi 2 kali sehari dan
kebutuhan lainnya. mungkin bagi yang mampu tidalah menjadi soal namun jika bagi
yang kurang mampu pasti sangatlah memprihatinkan.
selanjutnya kami melihat potensi dibeberapa wilayah seperti
Desa Balerante, Panggang dan Talun disetiap wilayah terkecil Rukun Tetangga
(RT) ada bak bak penampungan umum yang memang digunakan sebelumnya untuk
menampung air yang bebas setiap warga mengambil dari tempat tersebut degan
menggunakan derigen, sehingga membantu mempermudah ketika ada distribusi air.
Dari situ kami Relawan Turahan Awu dan Radio Komunitas Rasta
FM yang berada di lereng merapi ikut ambil bagian mendirikan POSKO KEKERINGAN
karena kami melihat droping dari berbagai pihak yang telah dilakukan belumlah
merata dapat dirasakan semua masyarakat di lereng merapi terutama jalur Barat
kali woro Klaten.
Sebagian kecil gambar bak umum milik warga yang kering
Kami berharap dana yang sedikit kami sisihkan dari kas
Organisasi Kami yang jelas belum bisa mencukupi kebutuhan air bersih di wilayah
kami mendapatkan tambahan dari donatur sehingga dapat mencukupi kebutuhan air
bersih di wilayah kami bahkan dapat berkembang hingga wilayah yang kekeringan
seKecamatan Kemalang secara menyeluruh.
Dalam distribusi Air Bersih kami akan meminjam truk Tangki Air milik Anggota Relawan bahkan tidak
menutup kemungkinan pinjam ke orang lain maupun lembaga yang siap mendukung
kegiatan kami ini. yang sebenarnya truk tangki teman teman relawan kami juga
harus melayani langganan mereka namun karenasituasi nya emergensi begini teman
teman kami siap mengalahkan langganannya demi warga yang kurang mampu membeli
air bersih, dan akirnya nanti harus dapat diatur sebaik mungkin agar semua
dapat berjalan sebaik mungkin misalnya tiap harinya kami minta 2 tangki air dr
masing-masing Truk tangki untuk kegiatan ini dan sisa waktu yang lain dapat
dipergunakan untuk melayani pelanggan mereka.
Selanjutnya Kami Sangat berharap Muda-mudahan banyak Donatur
yang peduli dengan masyarakat dilereng Merapi sehingga Posko Kekeringan yang
kami dirikan benar-benar dapat membantu masyarakat secara lebih maksimal dan
untuk donasi selain dapat disampaikan langsung diPosko kami yang beralamatkan
di Posko Rescue Turahan Awu atau Studio Radio Komunitas Rasta FM yang berada di
Dukuh Banjarjo Desa Panggang Kecamatan Kemalang juga dapat dikirimkan via
Bank BPD Jateng (
Kode 113 )
cabang Prambanan
No Rek 3-138-03620-0
Atas Nama Rescue Turahan Awu Induk B
CP 081578149075
ping 7597840B
Selanjutnya Donasi anda akan kami wujudkan Air Bersih yang
nantinya akan kami salurkan sampai pada bak
bak umum yang ada disatuan wilayah terkecil RT RT di wilayah kemalang khususnya
tiga desa di kulon woro kemalang klaten diantaranya Desa Balerante, Desa
Panggang dan Desa Talun bahkan jika memungkinkan ke desa desa yang lain yang
ada di wilayah kecamatan kemalang.
Kemudian Kami beserta Masyarakat Berdo'a semoga berkat
Bantuan para donatur, kebutuhan air bersih benar benar dapat tercukupi dan atas
kemurahan dan kepedulian para donatur serta berbagai pihak yang telah mendukung
berdirinya POSKO KEKERINGAN ini mendapatkan Imbalan yang pantas dari Allah SWT.
Amin
Kemalang, 23 September 2014
Salam Kemanusiaan
Koordinator Rescue Turahan Awu
Senin, 05 Mei 2014
Kegempaan di Gunung Merapi
Kegempaan di Gunung Merapi
Kegempaan di Merapi mulai dipantau sejak tahun 1930, yaitu pada saat ada kenaikan aktivitas saat itu. Studi tentang kegempaan secara anlitik dilakukan tahun 1968 oleh tim gabungan Indonesia - Jepang. Sejak saat itu gempa dibedakan berdasarkan jenisnya.
Dekade 1970an merupakan dekade penggunaan telemetri kabel, sensor seismograf dipasang terpisah dr lokasi perekamannya, Noise atau gangguan dari kegiatan manusia mulai bisa dikurangi karena seismometer ditempatkan pada lokasi yg terpisah. Tahun 1982 merupakan periode penggunaan sinyal radio, jarak lokasi stasiun pengirim dan penerima hampir tidak masalah lagi. Gempa di Gunung Merapi tergolong berskala kecil, ehingga gempa vulkanik hampir tidak dirasakan manusia. Magnitude berada dibawah 3 SR. Dari posisi sumber gempa, terjadi pada kedalaman dibawah 6 Km dibawah puncak. Pada umumnya gempa-gempa tergolong dangkal bahkan kurang dari 2 Km dibawah puncak. Dari distribusi lateral, gempa di Merapi tidak terlalu tersebar. Hiposenter gempa berada secara vertikal di bawah puncak.
JENIS GEMPA DI GUNUNG MERAPI
1. VTA (Vulkanik Dalam):
Gempa berasal dari kedalaman 2-5 Km, dari analisa frekuensi dominan tercatat pada elevasi 2625 mdpl, frekuensi berkisar antara 5 dan 8 Hz. Sebagai gempa yang mekanisme sumbernya seperti gempa tektonik, gempa ini mempunyai fase P dan S yang relatif dapat dibedakan dengan jelas. Simpangan (impuls) pertamanya (onset) cukup tegas sehingga mudah dalam membaca waktu tiba gempa. Walaupun masih tergantung pada limpasannya, beberapa stasiun seismograf yang terletask di lereng Merapi yang memiliki elevasi relatif lebih rendah kadang mencatat gempa jenis ini dengan amplitudo yang lebih besar. Fenomena ini disebabkan karena lokasi pusat gempa cukup dalam. Diantara gempa-gempa yang terjadi di Merapi, gempa VTA merupakan gempa bermagnitude terbesar.
Energi gempa yang cukup besar dibanding dengan jenias lainnya, biasanya semua stasiun seismograf di puncak dan lereng Merapi dapat mencatat gempa ini dengan jelas.
2. Gempa VTB
Gempa ini bersumber pada kedalam kurang dari 2 Kilometer dibawah puncak. Frekuensi dominan gempa berkisar antara 4 dan 7 Hz. Dari kenampakannya pada seismogram, gempa ini mirip dengan VTA hanya sata fase P dan S tidak terlihat jelas. Karena posisinya dangkal, gempa tercatat dengan jelas pada elevasi tinggi sedangkan seismograf di lereng bwah mencatat gempa jenis ini dengan amplitudo yang jauh lebih kecil.
3. Gempa MP (Multi Phase)
Gempa MP adalah gempa yang terjadi di kubah lava. Pada saat kubah lava tunmbuh cepat, jumlah kejadian gempa MP dapat mencapai 700 gempa per hari. Nampaknya gempa ini terjadi pada kerak-kerak kubah lava yang bergesekan pada saat kubah tumbuh. Frekuensi dominannya berkisar antara 3 dan 4 Hz. Dibandingkan dengan gemap VTA dan VTB awalan gempa yaitu impuls pertamanya tidak begitu tegas. Perkembangan amplitudo gempa juga bersifat gradual, yaitu amplitudo berkembang secara perlahan dan mencapai maksimum setelah 3 sampai 4 detik dari impuls pertamanya.
4. Gempa LF (Low Frequency)
Gempa LF mempunyai frekuensi dominan sekitar 1.5 Hz. Amplitudo gempa sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca pada stasiun elevasi tinggi atau disekitar puncak atau pada stasiun seismik digital. Secara fisis jenis gempa ini berkaitan dengan pergerakan fluida gas didalam pipa kepundan yang berkaitan dengan kesetimbangan stress sntsr batuan akibat tekanan gas.
5. Gempa LHF (Low High Frequency)
Gempa LHF memiliki frekuensi dominan 1.5 – 7 Hz. Amplitudo gempa sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca pada stasiun elevasi tinggi atau disekitar puncak atau pada stasiun seismik digital. Gempa ini terkait dengan pergerakan fluida gas didalam zona VTB.
6. Tremor
Di merapi terdapat dua macam tremor yaotu tremor frekuensi rendah dan tremor frekuensi tinggi. Tremor frekuensi rendah mempunyai frekuensi dominan 1,5 Hz. Kejadian tremor frekuensi rendah berkaitand engan gempa-gempa LF. Hal ini jelas saat terjadi banyak gempa LF, tremor frekuensi rendah juga sering terjadi. Pada saat sebelum letusan, sering tercatat tremor frekuensi tinggi. Kadangkala kejadian tremor diikuti suara gemuruh dari puncak Merapi. Beberapa kejadian letusan Merapi diawali dengan tercatatnya tremor frekuensi tinggi beberapa menit sebelum kejadian letusan.
7. Guguran
Guguran lava atau material dari puncak Merapi menuju lereng terlihat pada rekaman seismogram sebagai sinyal gempa dengan durasi panjang. Amplitudo guguran berkembang dari kecil dan mencapai maksimum setelah lebih dari 15 detik dari awal gempa. Dari panjangnya sinyal, guguran sangat mudah dibedakan dari gempa-gempa vulkanik
Kegempaan di Merapi mulai dipantau sejak tahun 1930, yaitu pada saat ada kenaikan aktivitas saat itu. Studi tentang kegempaan secara anlitik dilakukan tahun 1968 oleh tim gabungan Indonesia - Jepang. Sejak saat itu gempa dibedakan berdasarkan jenisnya.
Dekade 1970an merupakan dekade penggunaan telemetri kabel, sensor seismograf dipasang terpisah dr lokasi perekamannya, Noise atau gangguan dari kegiatan manusia mulai bisa dikurangi karena seismometer ditempatkan pada lokasi yg terpisah. Tahun 1982 merupakan periode penggunaan sinyal radio, jarak lokasi stasiun pengirim dan penerima hampir tidak masalah lagi. Gempa di Gunung Merapi tergolong berskala kecil, ehingga gempa vulkanik hampir tidak dirasakan manusia. Magnitude berada dibawah 3 SR. Dari posisi sumber gempa, terjadi pada kedalaman dibawah 6 Km dibawah puncak. Pada umumnya gempa-gempa tergolong dangkal bahkan kurang dari 2 Km dibawah puncak. Dari distribusi lateral, gempa di Merapi tidak terlalu tersebar. Hiposenter gempa berada secara vertikal di bawah puncak.
JENIS GEMPA DI GUNUNG MERAPI
1. VTA (Vulkanik Dalam):
Gempa berasal dari kedalaman 2-5 Km, dari analisa frekuensi dominan tercatat pada elevasi 2625 mdpl, frekuensi berkisar antara 5 dan 8 Hz. Sebagai gempa yang mekanisme sumbernya seperti gempa tektonik, gempa ini mempunyai fase P dan S yang relatif dapat dibedakan dengan jelas. Simpangan (impuls) pertamanya (onset) cukup tegas sehingga mudah dalam membaca waktu tiba gempa. Walaupun masih tergantung pada limpasannya, beberapa stasiun seismograf yang terletask di lereng Merapi yang memiliki elevasi relatif lebih rendah kadang mencatat gempa jenis ini dengan amplitudo yang lebih besar. Fenomena ini disebabkan karena lokasi pusat gempa cukup dalam. Diantara gempa-gempa yang terjadi di Merapi, gempa VTA merupakan gempa bermagnitude terbesar.
Energi gempa yang cukup besar dibanding dengan jenias lainnya, biasanya semua stasiun seismograf di puncak dan lereng Merapi dapat mencatat gempa ini dengan jelas.
2. Gempa VTB
Gempa ini bersumber pada kedalam kurang dari 2 Kilometer dibawah puncak. Frekuensi dominan gempa berkisar antara 4 dan 7 Hz. Dari kenampakannya pada seismogram, gempa ini mirip dengan VTA hanya sata fase P dan S tidak terlihat jelas. Karena posisinya dangkal, gempa tercatat dengan jelas pada elevasi tinggi sedangkan seismograf di lereng bwah mencatat gempa jenis ini dengan amplitudo yang jauh lebih kecil.
3. Gempa MP (Multi Phase)
Gempa MP adalah gempa yang terjadi di kubah lava. Pada saat kubah lava tunmbuh cepat, jumlah kejadian gempa MP dapat mencapai 700 gempa per hari. Nampaknya gempa ini terjadi pada kerak-kerak kubah lava yang bergesekan pada saat kubah tumbuh. Frekuensi dominannya berkisar antara 3 dan 4 Hz. Dibandingkan dengan gemap VTA dan VTB awalan gempa yaitu impuls pertamanya tidak begitu tegas. Perkembangan amplitudo gempa juga bersifat gradual, yaitu amplitudo berkembang secara perlahan dan mencapai maksimum setelah 3 sampai 4 detik dari impuls pertamanya.
4. Gempa LF (Low Frequency)
Gempa LF mempunyai frekuensi dominan sekitar 1.5 Hz. Amplitudo gempa sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca pada stasiun elevasi tinggi atau disekitar puncak atau pada stasiun seismik digital. Secara fisis jenis gempa ini berkaitan dengan pergerakan fluida gas didalam pipa kepundan yang berkaitan dengan kesetimbangan stress sntsr batuan akibat tekanan gas.
5. Gempa LHF (Low High Frequency)
Gempa LHF memiliki frekuensi dominan 1.5 – 7 Hz. Amplitudo gempa sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca pada stasiun elevasi tinggi atau disekitar puncak atau pada stasiun seismik digital. Gempa ini terkait dengan pergerakan fluida gas didalam zona VTB.
6. Tremor
Di merapi terdapat dua macam tremor yaotu tremor frekuensi rendah dan tremor frekuensi tinggi. Tremor frekuensi rendah mempunyai frekuensi dominan 1,5 Hz. Kejadian tremor frekuensi rendah berkaitand engan gempa-gempa LF. Hal ini jelas saat terjadi banyak gempa LF, tremor frekuensi rendah juga sering terjadi. Pada saat sebelum letusan, sering tercatat tremor frekuensi tinggi. Kadangkala kejadian tremor diikuti suara gemuruh dari puncak Merapi. Beberapa kejadian letusan Merapi diawali dengan tercatatnya tremor frekuensi tinggi beberapa menit sebelum kejadian letusan.
7. Guguran
Guguran lava atau material dari puncak Merapi menuju lereng terlihat pada rekaman seismogram sebagai sinyal gempa dengan durasi panjang. Amplitudo guguran berkembang dari kecil dan mencapai maksimum setelah lebih dari 15 detik dari awal gempa. Dari panjangnya sinyal, guguran sangat mudah dibedakan dari gempa-gempa vulkanik
Kultwit kegempaan di #Merapi..
Kultwit kegempaan di #Merapi..
1. VTA (Vulkanik Dalam): Gempa berasal dari kedalaman 2-5 Km, dari analisa
frekuensi dominan
tercatat pada elevasi 2625 mdpl,
2. frekuensi berkisar antara 5 dan 8 Hz
3. Sebagai gempa yang mekanisme sumbernya seperti gempa tektonik, gempa ini
mempunyai fase P dan S yang relatif dapat
dibedakan dengan jelas
4. Simpangan (impuls) pertamanya (onset) cukup tegas sehingga mudah dalam
membaca waktu tiba gempa.
5. Walaupun masih tergantung pada limpasannya, beberapa stasiun seismograf
yang terletak di
lereng Merapi
6. yang memiliki elevasi relatif lebih rendah kadang mencatat gempa jenis
ini dengan amplitudo yang lebih besar.
7. Fenomena ini disebabkan karena lokasi pusat gempa cukup dalam
8. Diantara gempa-gempa yang terjadi di Merapi, gempa VTA merupakan gempa
bermagnitude
terbesar.
9. Energi gempa yang cukup besar dibanding dengan jenias lainnya
10. biasanya semua stasiun seismograf di puncak dan lereng Merapi dapat mencatat
gempa ini
dengan jelas.
11. Gempa VTB: Gempa ini bersumber pada kedalam kurang dari 2 Kilometer
dibawah puncak.
12. Frekuensi dominan gempa berkisar antara 4 dan 7 Hz
13. Dari kenampakannya pada seismogram, gempa ini mirip dengan VTA hanya
sata fase P dan S
tidak terlihat jelas.
14. Karena posisinya dangkal, gempa tercatat dengan jelas pada elevasi
tinggi
15. sedangkan seismograf di lereng bwah mencatat gempa jenis ini dengan
amplitudo yang jauh
lebih kecil.
16. Gempa MP (Multi Phase) : gempa yang terjadi di kubah lava
17. Pada saat kubah lava tunmbuh cepat, jumlah kejadian gempa MP dapat
mencapai 700 gempa
per hari.
18. Nampaknya gempa ini terjadi pada kerak-kerak kubah lava yang bergesekan
pada saat kubah
tumbuh.
19. Frekuensi dominannya berkisar antara 3 dan 4 Hz.
20. Dibandingkan dengan gemap VTA dan VTB awalan gempa yaitu impuls
pertamanya tidak begitu
tegas.
21. Perkembangan amplitudo gempa juga bersifat gradual,
22. yaitu amplitudo berkembang secara perlahan dan mencapai maksimum
setelah 3 sampai 4 detik
dari impuls pertamanya.
23. Gempa LF (Low Frequency): mempunyai frekuensi dominan sekitar 1.5 Hz
24. Amplitudo gempa sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca pada stasiun
elevasi tinggi
25. atau disekitar puncak atau pada stasiun seismik digital.
26. Secara fisis jenis gempa ini berkaitan dengan pergerakan fluida gas
didalam pipa kepundan
27. yang berkaitan dengan kesetimbangan stress sntsr batuan akibat tekanan
gas.
28. Gempa LHF (Low High Frequency) : memiliki frekuensi dominan 1.5 – 7 Hz
29. Amplitudo gempa sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca pada stasiun
elevasi tinggi
30. atau disekitar puncak atau pada stasiun seismik digital.
31. Gempa ini terkait dengan pergerakan fluida gas didalam zona VTB
32. Tremor, Di merapi terdapat dua macam tremor yaotu tremor frekuensi
rendah dan tremor
frekuensi tinggi.
33. Tremor frekuensi rendah mempunyai frekuensi dominan 1,5 Hz. Kejadian
tremor frekuensi
rendah berkaitand engan
gempa-gempa LF.
34. Hal ini jelas saat terjadi banyak gempa LF, tremor frekuensi rendah
juga sering terjadi.
35. Pada saat sebelum letusan, sering tercatat tremor frekuensi tinggi.
36. Kadangkala kejadian tremor diikuti suara gemuruh dari puncak Merapi.
37. Beberapa kejadian letusan Merapi diawali dengan tercatatnya tremor
frekuensi tinggi beberapa
menit sebelum kejadian letusan.
38. Guguran, Guguran lava atau material dari puncak Merapi menuju lereng
terlihat pada rekaman
seismogram
39. sebagai sinyal gempa dengan durasi panjang.
40. Amplitudo guguran berkembang dari kecil dan mencapai maksimum setelah
lebih dari 15 detik
dari awal gempa.
41. Dari panjangnya sinyal, guguran sangat mudah dibedakan dari gempa-gempa
vulkanik.
42. Kegempaan di Merapi mulai dipantau sejak tahun 1930, yaitu pada saat
ada kenaikan aktivitas
saat itu.
43. Studi tentang kegempaan secara anlitik dilakukan tahun 1968 oleh tim
gabungan Indonesia –
Jepang
44. Sejak saat itu gempa dibedakan berdasarkan jenisnya.
45. Dekade 1970an merupakan dekade penggunaan telemetri kabel, sensor
seismograf dipasang
terpisah dr lokasi perekamannya
46. NOise atau gangguan dari kegiatan manusia mulai bisa dikurangi karena
seismometer
ditempatkan pada lokasi yg
terpisah
47. Tahun 1982 merupakan periode penggunaan sinyal radio, jarak lokasi
stasiun pengirim dan
penerima hampir tidak masalah
lagi.
48. Gunung #Merapi
tergolong gempa berskala kecil, sehingga gempa vulkanik hampir tidak
dirasakan manusia
49. Magnitude berada dibawah 3 SR
50. Dari posisi sumber gempa, terjadi pada kedalaman dibawah 6 Km dibawah
puncak.
51. Pada umumnya gempa-gempa tergolong dangkal bahkan kurang dari 2 Km
dibawah puncak.
52. Dari distribusi lateral, gempa di Merapi tidak terlalu tersebar.
Hiposenter gempa berada secara
vertikal di bawah puncak.
53. Sekian dan Terimakasih.
Sumber @BPPTKG
Rabu, 30 April 2014
Press Release Meningkatnya Status Gunung Merapi Dari Aktif Normal Menjadi Waspada
Berikut disampaikan Surat No. 326/04/BGV.K/2014 tentang kenaikan Status aktivitas Gunung #Merapi Bersama ini disampaikan dengan hormat hasil evaluasi data pemantauan aktivitas Merapi 29 April 2014 sebagai berikut
1. Kegempaan : Tanggal 20 -29 April 2014 terjadi gempa guguran 37 kali, MP 13 kali, Hembusan 4 kali, Tektonik 24 kali, LF 29 kali
2. Peningkatan signifikan terjadi pada gempa LF sebagai indikasi meningkatnya fluida gas vulkanik yg berpotensi menimbulkan letusan
3. Deformasi:Deformasi di#Merapi yg dipantau secara instrumental dengan EDM, TIltmeter maupun GPS, tidak menunjukkan peningkatan signifikan
4. Visual: Dari Pos Pemantauan#Merapi dilaporkan terdengar suara dentuman hingga radius 8 Km
5. Kesimpulan: Berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan#Merapi secara instrumental dan visual, disimpulkan aktivitas #Merapi mengalami penigkatan.
6.Dengan meningkatnya aktivitas tersebut maka terhitung mulai 29 april 2014 pukul 23:50 WIB status G.#Merapi dinaikkan dari tingkat NORMAL menjadi WASPADA
7. Rekomendasi: Dengan meningkatnya Status aktivitas#Merapi dari NORMAL menjadi WASPADA kepada para pemangku kepentingan dalam Penanggulangan Bencana G. #Merapi direkomendasikan sbb:
a. Kegiatan pendakian#Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dg upaya mitigasi bencana
b. Jika terjadi peningkatan aktivitas#Merapi yang signifikan maka status #Merapi akan segera ditinjau kembali
c. Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G.#Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah
atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165075 Mhz, Kantor BPPTKG Jl. Cendana 15 Yogyakarta (0274) 514180/514192 atau Twitter@BPPTKG
d. Pemerintah daerah direkmendasikan untuk mensosialisaikan kondisi#Merapi saat ini kepada masyarakat
Demikian kami sampaikan atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih. Yogyakarta 29 April 2014
Sumber@BPPTKG
1. Kegempaan : Tanggal 20 -29 April 2014 terjadi gempa guguran 37 kali, MP 13 kali, Hembusan 4 kali, Tektonik 24 kali, LF 29 kali
2. Peningkatan signifikan terjadi pada gempa LF sebagai indikasi meningkatnya fluida gas vulkanik yg berpotensi menimbulkan letusan
3. Deformasi:Deformasi di
4. Visual: Dari Pos Pemantauan
5. Kesimpulan: Berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan
6.Dengan meningkatnya aktivitas tersebut maka terhitung mulai 29 april 2014 pukul 23:50 WIB status G.
7. Rekomendasi: Dengan meningkatnya Status aktivitas
a. Kegiatan pendakian
b. Jika terjadi peningkatan aktivitas
c. Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G.
atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165075 Mhz, Kantor BPPTKG Jl. Cendana 15 Yogyakarta (0274) 514180/514192 atau Twitter
d. Pemerintah daerah direkmendasikan untuk mensosialisaikan kondisi
Demikian kami sampaikan atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih. Yogyakarta 29 April 2014
Sumber
http://youtu.be/J7KLzgORLRA
http://www.youtube.com/watch?v=9x6N7WYoxpE
Langganan:
Postingan (Atom)


